Film ini bertutur tentang keprihatinan Songlian sebagai selir keempat dari seorang yang kaya raya di negeri Tiongkok. Songlian mau tidak mau harus terlibat dalam persaingan antar selir dalam memperebutkan perhatian sang suami. Lentera merah yang berada di depan masing-masing rumah selir menandakan siapa yang memenangkan hati sang suami. Rumah yang lentera merahnya menyala, di sanalah sang suami akan tinggal dan bercinta dengan selir pemilik rumah. Namun kalau lentera padam, yang ada hanya kesunyian. Keempat selir pun berebut dengan intrik dan muslihat. Tekanan demi tekanan mendera Songlian dalam persaingan tersebut. Sebuah sandiwara yang tidak mudah untuk dibaca arahnya. Senyuman hangat bisa menjadi racun. Sebaliknya sifat acuh dan nyinyir ternyata malah menyimpan kepedulian. Film ini berakhir tragis. Songlian tak kuasa menahan beban sebagai selir, hingga akhirnya menjadi gila. Saat itulah datang seorang perempuan sebagai selir kelima. Menyaksikan film ini mengingatkan kita a...
Sinema dan secangkir kopi adalah paduan yang luar biasa. Keduanya mampu merangsang inspirasi yang beku. Dalam blog ini akan dibahas film-film inspiratif yang diproduksi dari seluruh penjuru dunia. Salam Sinema!!