Sebuah perguruan tinggi di Inggris menerapkan disiplin yang keras baik dalam sekolah ataupun asrama. Namun beberapa siswa menentangnya. Mereka melakukan kenakalan-kenakalan remaja seperti mencuri motor dari daeler, minum alkohol, hingga berpacaran. Walaupun dihukum namun mereka tetap menunjukkan sikap penolakan terhadap disiplin sekolah. Hingga puncaknya saat menjalani hukuman, mereka menemukan senapan dan granat di gudang sekolah. Dalam sebuah acara penyambutan pahlawan nasional, mereka beraksi dengan membombardir para tamu dengan senapan dan membuat ledakan granat di halaman sekolah. Senjata dapat mengubah segalanya. Jikalau...
Saat itu film Jaws sedang menjadi trend di dunia. Jepang-pun tak mau ketinggalan. Mereka membuat film House untuk menandingi ketenaran Jaws. Jika Jaws monsternya adalah seekor hiu raksasa, House memiliki monster sendiri : rumah tua. Seorang remaja yang kecewa karena ayahnya akan menikah lagi setelah ibunya meninggal dunia. Ia pun menghibur diri dengan pergi ke rumah bibinya, saudara ibunya di desa. Bersama enam sahabat di sekolahnya ia pergi ke rumah tempat tinggal bibinya untuk mengisi liburan. Di rumah itulah, mereka menemukan banyak kejadian seram. Rumah itu seperti monster yang “memakan” satu demi satu sahabatnya. Ternyata bibi yang menemui mereka sudah lama meninggal. Yang mereka jumpai adalah arwah dari bibi yang menunggu kekasihnya pulang dari perang dunia. Inilah film horor yang ceria. Film horor tidak perlu dengan suasana gelap dan kostum hitam. Ketidaknyamanan akan semakin terasa ketika dalam situasi yang ceria penuh senyum tawa tiba-tiba.... mati.