Langsung ke konten utama

Trainspotting (1996)

 



Keinginan seorang pecandu heroin yang mencoba untuk terlepas dari jerat obat terlarang dan menjalani hidup seperti manusia biasa. Mudahkah? Tentu tidak! Godaan yang paling kuat adalah sahabat-sahabatnya sendiri. Ada kalanya untuk melangkah menjadi lebih baik harus mengorbankan sahabat-sahabat kita sendiri. Tidak perlu sungkan untuk menendang yang menjadi beban.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Late Spring (1949), Menikah, Zona yang Tidak Nyaman

“Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita harapkan terjadi, tapi sesuatu yang harus kita ciptakan.” Demikianlah Shukichi menasihati putri tunggalnya, Noriko, yang sedang bimbang memutuskan untuk menikah atau tidak. Film ini mengisahkan pergumulan Noriko, gadis 27 tahun yang tinggal bersama Shukichi ayahnya yang sudah menduda. Pada awalnya Noriko merasa hidupnya sudah nyaman tinggal bersama ayahnya, tanpa harus menikah. Ia menganggap pernikahan adalah beban. Noriko dibayang-bayangi kegagalan dalam mebangun pernikahan yang dialami oleh seorang sahabatnya. Namun dorongan dari Shukichi mampu mengubah pola pikir Noriko. Ia akhirnya berani beranjak meninggalkan zona nyamannya dan bersiap memasuki zona tidak nyaman, yaitu pernikahan.  Di akhir film, Noriko mengenakan baju penganten dan diantarkan ayahnya untuk menikah. Tapi yang menarik adalah dalam film ini sama sekali tidak diperlihatkan siapakah pasangan Noriko yang akan menikahinya. Jadi pesan yang ingin disampaikan dari fi...

Coda (2021), Mendengar yang Tidak Terdengar

  Seorang gadis bersuara indah hadir di antara keluarga yang tuna rungu. Sebuah dilema besar ketika harus memilih antara pergi melanjutkan kuliah musik karena beasiswa, atau tetap tinggal bersama ayah, ibu, dan kakaknya yang tuna rungu sebagai nelayan. Film ini membenturkan dua   dunia yang berseberangan dengan sangat keras. Buat apa suara indah di tengah keluarga tuna rungu? Film ini mengajak kita untuk berempati. Bagaimana seorang yang bisa mendengar dan berbicara belajar untuk menjadi seorang yang tidak bisa mendengar. Dan juga bagaimana seorang tuna rungu belajar untuk menikmati dan menghargai indahnya musik. Bagian yang menarik dari film ini adalah ketika sang ayah, ibu, dan kakak menyaksikan gadis itu bernyanyi di aula bersama dengan kelompok paduan suaranya. Kita diajak untuk mengalami apa yang dirasakan oleh keluarga yang tuna rungu ketika di tengah-tengah lagu tiba-tiba suara dimaatikan. Hening... Sepi... Kita diajak untuk menikmati musik tanpa suara. Kita diajak ...

Amelie (2001), Bahagiamu Bahagiaku

Cara bertutur Narator yang cerdas dan kocak di film ini mampu merangkai dan mengembangkan kejadian-kejadian yang sepertinya biasa saja menjadi luar biasa. Misalnya saja di awal film, Narator mengatakan, “ Pada tanggal sekian, detik ke sekian, seekor lalat terbang dengan kecepatan sekian, mendarat di blablabla... Pada saat yang sama, di teras suatu restoran, angin secara ajaib membuat dua gelas menari di atas taplak meja. Sementara itu di Paris, seorang yang bernama anu pulang dari pemakaman sahabatnya dan menghapus catatan nama serta nomor telepon sahabatnya dari buku catatan. Pada saat yang sama, sperma dengan satu kromosom X milik si anu bersatu dengan benih istrinya. Sembilan bulan kemudian Amelie Poulan lahir. ” Ya, narator merangkai dengan cepat tautan-tautan cerita menjadi satu alur dengan begitu indah. Sang Naratorpun menghidupkan Amelie gadis cantik yang memiliki kelainan jantung, sehingga ia harus belajar di rumah. Keterbatasan pergaulan Amelie membuat dirinya memili...