Langsung ke konten utama

Postingan

A Beautiful Mind (2001), Berkawan dengan Imajinasi

John Forbes Nash adalah seorang ahli matematika yang gagasannya dijadikan dasar teori ekonomi kontemporer di dunia. Pada tahun 1994 ia meraih Nobel, sebuah penghargaan akan kiprahnya sebagai ahli ekonomi. Dalam film ini, John Nash dikisahkan memiliki gangguan kejiwaan yang sangat membebani hidupnya. John Nash memiliki dua orang teman khayalan dan seorang gadis kecil imajiner yang selalu hadir dalam kehidupannya. Kedua temannya ini mengajak John Nash untuk terlibat dalam konspirasi pemecahkan kode rahasia melawan Rusia. John Nash begitu bergairah dengan tantangan tersebut. Sayangnya ini semua hanyalah bayangan Nash semata. Tidak mudah bagi Nash untuk terlepas dari bayang-bayang teman ilusinya. Bahkan ketika menjalani terapi obat untuk menghilangkan imajinasinya, John Nash menolak. Ia lebih memilih hidup apa adanya, meskipun teman imajinasinya selalu menggoda untuk kembali terlibat dalam konspirasi kode rahasia. Sebuah khayalan yang indah. Demikianlah konflik batin John ...

12 Years a Slave (2013), Matinya Rasa Kemanusiaan

Nama adalah sebuah identitas yang melekat dalam kehidupan seseorang. Di dalam sebuah nama bisa dijumpai harapan, penanda, sejarah, bahkan doa. Ketika nama itu ditiadakan dan diganti dengan nama yang lain, bisa menjadi sebuah penghinaan yang luar biasa. Dalam film ini, Solomon, seorang tukang kayu dan musisi kulit hitam dari kalangan menengah dijebak dan dijual sebagai budak. Ia dipisahkan begitu saja dari keluarga dan komunitasnya, dipaksa masuk ke dalam kehidupan yang baru sebagai budak. Nama Solomon diganti menjadi Platt. Sebuah nama yang singkat, hanya satu suku kata, dan tanpa makna.       Dua belas tahun adalah masa di mana Platt berpetualang sebagai budak. Beberapa kali ia dijual-belikan untuk dipekerjakan layaknya ternak. Penindasan adalah pemandangan yang setiap hari dijumpainya. Hukuman cambuk yang merobek kulit hingga daging menjadi sahabat bagi para budak. Beberapa kali Platt mencoba melarikan diri, tapi malah dikhianati. Hingga suatu saat, ia berju...

21 Grams (2003), Agama yang Memabukkan

Film ini menautkan tiga cerita menjadi satu rangkaian yang saling terkait. Salah satunya adalah cerita Jack Jordan yang mabuk agama. Jack adalah seorang mantan narapidana yang kemudian berkenalan dengan seorang pendeta. Melalui pendeta itulah Jack mengenal kehidupan gereja dan terlibat aktif di dalamnya. Namun perjumpaannya dengan gereja malah membuat dirinya sering tidak berpikir rasional. Pertautan kisah itu terjadi pada saat Jack menabrak seorang ayah bersama dua orang anaknya yang sedang menyeberang jalan. Jack pun menyerahkan diri kepada polisi dan ditahan. Orang yang ia tabrak mengalami kritis dan kemudian meninggal. Jantungnya didonorkan kepada seseorang yang nantinya menjadi kekasih istrinya. Begitu runyam film ini. Pertautan tiga cerita itu tidak dirangkai secara linier namun secara acak dan terbolak-balik. Penonton harus menyusun sendiri kepingan-kepingan puzzle film 21 Grams menjadi satu rangkaian yang utuh. Film ini dengan jelas menyindir agama yang bisa mem...

Not One Less (1999), Sebuah Potret tentang Ketimpangan

Betapa beratnya ketika Wei, seorang gadis belia berumur 13 tahun di desa terpencil China, diminta menggantikan mengajar 28 anak sekolah dasar selama sebulan karena ditinggal gurunya ke luar kota? Usia yang masih begitu belia membuat Wei canggung untuk mengajar. Kemampuannya untuk berbicara dan mengatur anak-anak masih sangatlah kurang. Kharisma seorang guru pun sama sekali belum muncul dalam diri Wei. Ditambah lagi, ia harus menjaga 28 anak yang belajar agar jangan sampai ada yang keluar dari sekolahan. Tantangan sosial ekonomi pada waktu itu adalah banyaknya anak yang mau tidak mau harus meninggalkan bangku sekolah dan bekerja ke kota untuk membantu orang tua mencari uang. Yang ditakutkan Wei pun terjadi juga. Zhang, salah satu murid Wei, harus putus sekolah dan pergi ke kota untuk bekerja demi menutup hutang keluarga. Guru Wei pun berniat untuk mencari Zhang ke kota. Pencarian Zhang di kota adalah sebuah petualangan yang penuh drama dan air mata. Guru Wei diperhadap...

Curse of the Golden Flower, Menikmati Pesona Gong Li

Setiap kisah kerajaan yang diangkat ke dalam novel, drama, ataupun film hampir dipastikan akan dijumpai konflik pemberontakan. Bisa dikatakan inilah konflik yang klasik dalam kisah kerajaan. Permasalahannya adalah tinggal bagaimana mengemas konflik pemberontakan itu menjadi sajian yang memukau. Seperti dalam film Curse of Golden Flower , konflik hadir ketika Sang Permaisuri merencanakan pemberontakan kepada Kaisar, suaminya sendiri. Dalam festival tahunan bunga Seruni, terjadilah kemelut pertumpahan darah antara ribuan pasukan pemberontak Sang Permaisuri dengan tentara kerajaan. Suasana film yang tadinya lengang berubah menjadi gaduh luar biasa. Apa yang tersaji di film ini sebenarnya terlalu berlebihan. Nuansa perang kolosal yang mencoba dibuat megah malah kurang mengena. Tiba-tiba saja muncul ribuan tentara, lalu berperang, lalu salah satu pihak kalah, dan kembali sepi lagi. Kalau dicermati durasi perang yang begitu gaduh itu hanya sepuluh menit dari keseluruhan film. Per...

8 1/2 (1963), Kenapa Harus Bahagia?

Produser telah siap untuk mendanai film. Para artis telah antri untuk mendapatkan peran. Tim kreatif telah siap dengan setting propertinya. Wartawan telah siap untuk meliput. Namun sang sutradara masih belum menemukan ide cerita film. Bahkan menjelang syuting perdana pun masih belum jelas film jenis apa yang akan dikerjakan. Ya, ini adalah sebuah film brilian tentang pembuatan film yang amburadul. Semua bermuara kepada Guido sang sutradara yang merasa galau. Ia pun menggali makna kebahagiaan melalui imajinasinya. Bahkan ada bagian yang sangat menarik dari film ini ketika ia menghadap Paus untuk menanyakan kenapa dirinya tidak merasa bahagia. Apa kata Paus? “Kenapa kau harus bahagia? Bahagia bukanlah tugas kita dalam kehidupan.” Sebuah jawaban yang sangat bijak dan sekaligus menohok. Biasanya pemimpin agama akan mengarahkan umat untuk merasakan bahagia dengan resep bla-blal-bla... Jawaban yang sering malah menbuat semakin tidak bahagia. Tapi Paus di film ini (tentu bukan ungkap...

Farewell My Concubine, Sejarah Kelam Opera China

Film ini mengangkat perjalanan opera tradisional China yang menembus lorong sejarah revolusi komunis di China dari tahun 40-an hingga 60-an. Dikisahkan dua orang yang telah berlatih opera China bersama sejak kecil di sebuah padepokan, menjalani hari-hari sebagai aktor panggung dan juga manusia biasa di luar panggung. Dieyl memerankan seorang selir dan Xiaolou memerankan seorang raja (keduanya adalah laki-laki). Farewell My Concubine adalah lakon yang seringkali mereka bawakan di panggung. Melalui lakon inilah mereka menjadi bintang panggung yang disanjung dan dihormati. Puncak kesuksesan mereka diuji dengan hadirnya Juaxian, seorang pelacur yang mampu merebut hati Xiaolou. Terperciklah api cemburu dalam diri Dieyl. Bagi Dieyl, dirinya dan Xialou adalah pasangan Raja dan selir yang juga harus hidup bersama bukan hanya di apanggung tapi juga di dunia nyata. Perjalanan sejarah China pun menempa kebersamaan mereka baik di atas panggung ataupun di luar panggung. Ketika Jepang...