Langsung ke konten utama

Postingan

A.I. Artificial Intelligence (2001), Robot yang Manusiawi

Steven Spielberg adalah seorang produser dan sutradara kawakan dalam film-film bergenre sci-fi . Salah satu di antaranya adalah A.I. Artificial Intelligence . Film ini berkisah tentang sebuah robot anak laki-laki bernama David yang diciptakan dengan sensor yang begitu halus, hampir mendekati manusia. Robot itu tadinya diasuh oleh pasangan Henry dan Monica. Tapi ketika dirasakan David seringkali bermasalah dengan anaknya, Davidpun dibuang di hutan. Dari sinilah perjalanan David sebagai robot yang spesial mengejar impiannya dimulai, yaitu dapat hidup menjadi manusia biasa. Perjalanan David terinspirasi dongeng Pinokio yang juga mendambakan kehidupan yang normal sebagai manusia. Dalam perjalanan panjang yang ditempuh, David benar-benar menunjukkan bahwa dirinya robot istimewa yang memiliki perasaan seperti manusia. Ia merasa sedih, gembira, dan bahkan menemukan sosok Tuhan dalam diri patung peri biru di mana ia menyerahkan harapannya melalui doa. Dan doa itu terkabul dua ribu tahun kemudi...

Raise the Red Lantern (1991), Madu dan Racun Para Selir

Film ini bertutur tentang keprihatinan Songlian sebagai selir keempat dari seorang yang kaya raya di negeri Tiongkok. Songlian mau tidak mau harus terlibat dalam persaingan antar selir dalam memperebutkan perhatian sang suami. Lentera merah yang berada di depan masing-masing rumah selir menandakan siapa yang memenangkan hati sang suami. Rumah yang lentera merahnya menyala, di sanalah sang suami akan tinggal dan bercinta dengan selir pemilik rumah. Namun kalau lentera padam, yang ada hanya kesunyian. Keempat selir pun berebut dengan intrik dan muslihat. Tekanan demi tekanan mendera Songlian dalam persaingan tersebut. Sebuah sandiwara yang tidak mudah untuk dibaca arahnya. Senyuman hangat bisa menjadi racun. Sebaliknya sifat acuh dan nyinyir ternyata malah menyimpan kepedulian. Film ini berakhir tragis. Songlian tak kuasa menahan beban sebagai selir, hingga akhirnya menjadi gila. Saat itulah datang seorang perempuan sebagai selir kelima.   Menyaksikan film ini mengingatkan kita a...

Whiplash (2014), Runtuhnya Kuasa Konservatif

Sebuah perseteruan seru antara Fletcher, seorang guru dan dirigen musik jazz klasik, dengan Andrew, seorang murid yang sedang belajar menabuh drum di sebuah sekolah musik. Pada awalnya Fletcher mengagumi permainan drum Andrew. Ia mengajak Andrew bergabung di grup band pimpinannya. Namun seiring berjalanannya waktu, Andrew pun disingkirkan karena tidak sesuai dengan visi bermusik Fletcher. Merasa direndahkan, Andrew berambisi menunjukkan bahwa ia adalah musisi hebat. Perseteruan mereka berdua berakhir dalam sebuah pementasan, di mana keduanya berebut panggung menunjukkan siapa yang paling berkuasa.   Inilah film musikal yang menurut saya terbaik. JK Simmons, pemeran Fletcher adalah kunci kesuksesan film ini. Simmons mampu menampilkan tokoh Fletcher sebagai guru yang prefeksionis tapi sangat konservatif. Kolot dan keras kepala. Ketegangan film ini dibangun pada saat sesi latihan band. Siapa saja yang melakukan kesalahan harus bersiap menerima hardikan keras sang guru. Dan ketika ...

Aruna dan Lidahnya (2018), Ada Apa dengan Rawon??

Dalam film ini, makanan bukan hanya sebatas kebutuhan, tapi sudah menjadi gaya hidup. Makan bukan hanya untuk kenyang tapi untuk bahagia. Demikianlah petualangan empat orang : Aruna (Dian Sastro), Bono (Nicolas Saputra), Nad (Hannah Al Rashid), serta Farish (Oka Ananta) dalam meramu cinta beraroma kuliner di empat daerah : Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Berawal dari penugasan Aruna dan Bono untuk menyelidiki kasus flu burung dari kantor ke empat kota tersebut, petualangan kuliner malah menjadi prioritas perjalanan mereka. Dalam kisah percintaan segi empat antara Aruna, Bono, Nad, dan Farish, tersajilah ragam kuliner yang begitu menggoda. Rawon Surabaya, soto Lamongan, rujak soto, choi pan, bakmi kepiting Pontianak... semua tersaji silih berganti memikat hati. Film ini mirip dengan serial drama Korea Lets Eat yang tiap episodenya menjadikan makanan sebagai bagian dari pemecahan masalah. Makananlah yang mempersatukan keempat tokoh film ini dalam ikatan batin ...

Amadeus (1984), Membunuh Mozart dengan Senandung Minor

Film ini mencoba memotret kehidupan Mozart dari sudut pandang penuturan Salieri, seorang musisi istana Wina yang menganggap Mozart adalah   saingannya. Di balik talenta besar dan karyanya yang begitu indah, film ini menggambarkan sosok Mozart sebagai seorang yang kekanak-kanakan, urakan , dan memiliki selera humor yang aneh. Salieri pun menaruh rasa cemburu atas prestasi Mozart yang sejak kecil memang mendapatkan banyak pujian karena kejeniusan bermusiknya. Salieri mencoba menghalangi karier bermusik Mozart dan menjatuhkan nama baik Mozart. Namun semakin dihalangi, nama Mozart justru semakin masyur. Hingga akhirnya muncullah niat Salieri untuk menyingkirkan dan menghabisi Mozart. Salieri merencanakan membunuh Mozart secara perlahan. Ia mengatur sedemikian rupa agar Mozart mendapatkan banyak pesanan lagu. Mozart tak dapat menolak pesanan itu karena memang sedang membutuhkan uang. Ketika dikejar waktu, Mozart merasa begitu lelah. Salieri terus menekan dengan pesanan-pesanan l...

Good Bye Lenin! (2003), Merayakan Kapitalisme

Dari judul filmnya saja sudah memunculkan rasa penasaran. Ada apa dengan Lenin? Film ini mengangkat sejarah proses bersatunya Jerman Barat dan Timur yang diawali peristiwa robohnya tembok Berlin tahun 1989. Robohnya tembok Berlin berdampak kepada perubahan budaya dan ideologi masyarakat Jerman waktu itu. Jerman Timur yang mengagungkan sosialis komunis harus legawa berbagi ruang dengan Jerman Barat yang berkiblat kepada kapitalis. Hancurnya tembok Berlin   menandai mulai masuknya kapitalisme di negara itu. Momen alih budaya inilah yang diangkat melalui film Good Bye Lenin ! Christine adalah seorang ibu yang berjuang membela suara kelompok buruh tani di Jerman Timur. Suaminya telah pergi dan menyeberang ke Jerman Barat. Sedangkan Alex, anaknya, juga seorang aktifis yang kerapkali melakukan unjuk rasa. Pada sebuah demonstrasi besar-besaran di awal Oktober 1989, Christine melihat Alex ditangkap aparat. Seketika itu juga Christine mengalami serangan jantung yang mengakibatka...

Hujan Bulan Juni (2017), Hujanmu Abadi, Pak Sapardi...

Sebenarnya sama sekali tidak ada niat untuk menuliskan catatan tentang film ini. Tapi ketika mendengar kabar sang maestro hujan telah berpulang, tergeraklah untuk mengingat dan menuliskan kembali serpihan karyanya yang diabadikan melalui sebuah film : Hujan Bulan Juni. Dari puisi, kemudian ditulislah novel. Dari novel, dihidupkan menjadi film. Sayang, ada banyak hal yang mengecewakan dari film ini ketika kita lebih dahulu membaca puisi dan novel pak Sapardi. Puisinya begitu bersahaja. Novelnya begitu humanis. Namun ketika tertuang menjadi film, entah kenapa daya mistis karya beliau sirna. Adalah sebuah kisah roman tentang Sarwono dan Pingkan. Sarwono orang Solo, sedangkan Pingkan gadis berdarah Jawa-Manado. Sarwono Islam, Pingkan Kristen. Kisah cinta mereka dibalut dengan puisi-puisi yang dituliskan oleh Sarwono. Bumbu percintaan mereka adalah hadirnya Kyoto, mahasiswa program tukar budaya asal Jepang yang menjadi orang ketiga. Sayangnya pergumulan kritis Pak Sapardi ya...