Kisah tentang sebuah robot yang seharusnya dikirim untuk
membantu pekerjaan rumah tangga tapi nyasar di tengah hutan karena kesalahan
ekspedisi. Ia pun harus belajar menghadapi dunia binatang yang tentu saja tidak
ada dalam programnya. Ia harus mengasuh seekor angsa dari saat ia menetas
hingga belajar berenang dan terbang. Ia menjadi sahabat bagi sekor rubah
introvert yang merasa kesepian.
Robot yang tadinya diciptakan penurut (seusai dengan
program), berubah menjadi liar. Apa yang dilawan? Programnya sendiri. Program hadir
karena pikiran, tapi robot itu menunjukkan sesuatu yang lebih kuat dari itu,
yaitu rasa.
Sindiran bagi kita yang seringkali hanya menjalankan “program” saja tanpa memberi rasa dan makna di dalamnya. Bangun jam lima, mandi jam enam, sarapan, berangkat kerja, istirahat, makan siang, pulang jam empat, mandi, makan malam, istirahat, tidur. Itulah hari-mari manusia modern. Program itu terus berulang dalam hidup kita dan kita patuh begitu saja seperti robot. Modernisasi akan menghasilkan keteraturan, keseragaman, kepatuhan, dan kehampaan. Ada kalanya dibutuhkan perlawanan untuk memberi rasa dan makna.
Sebuah film yang memiliki tema yang unik, membangun kontras modernitas yang hadir di tengah alam yang masih perawan. Yang modern harus belajar kembali ke alam. Kembali ke "sangkan paran", asal muasal kehidupan.

Komentar
Posting Komentar