Seorang nenek yang menderita kanker stadium akhir, diperkirakan hidupnya satu tahun lagi menjadi objek perebutan warisan anak dan cucunya. Mereka tiba-tiba saja menjadi baik kepada sang nenek demi mendapatkan hak waris rumah yang sedang ditinggali. Kejutan muncul ketika anak cucu yang berusaha merawat dan menunjukkan kebaikan malah tidak mendapatkan hak waris rumah. Sang nenek memutuskan memberikan rumahnya justru kepada anak yang hidupnya tidak jelas dan jarang mengunjunginya.
Film ini mengajak kita melihat kebaikan secara kritis. Apakah motif atau latar belakang kebaikan yang dilakukan? Memang masih ada kebaikan yang benar-benar hadir karena rasa cinta yang tulus. Bukan karena balas budi ataupun pamrih semata. Namun lebih banyak kebaikan palsu yang hadir seolah-olah menunjukkan kepedulian tapi penuh kemunafikan. Ketika sang nenek memutuskan menyerahkan rumahnya kepada salah seorang anak, dan rumah itu dijual, sang nenek pun "dibuang" ke panti jompo. Begituah kehidupan yang penuh dengan kepalsuan.
Walaupun ini film Thailand, tapi seolah-olah kita sedang menyaksikan film China karena diangkat dari keluarga besar keturunan China yang tinggal di Thailand. Keluarga keturunan China memang memiliki keunikan yang khas mengenai konflik permasalahan materi. Menyaksikan film ini, mengingatkan saya akan film Cek Toko Sebelah yang juga memiliki latar belakang serupa tentang warisan. Yang menarik adalah film ini bukan hanya menunjukkan konflik perebutan warisan semata tapi juga berbicara tentang spriritualitas yang dalam. Bagaimana memaknai waktu, bagaimana memaknai keluarga, bagaimana memaknai kerja, bagaimana memaknai kegahagiaan, bagaimana memaknai harapan.... Pada saat berdoa bersama di kuil, selain menuliskan doa pengharapan agar anak cucunya sehat dan mendapat pekerjaan yang layak, sang nenek menuliskan, "semoga saya menang lotere". Sebuah doa yang benar-benar jujur dan "nakal".

Komentar
Posting Komentar