David dan Benjamin adalah dua orang saudara sepupu yang yang mengikuti tour sejarah ke Polandia. Agenda tour tersebut adalah mengunjungi sisa peristiwa genosida terhadap orang-orang Yahudi di Polandia. Mereka mengikuti tour tersebut sebagai penghormatan bagi nenek mereka, orang Yahudi yang selamat dari peristiwa genosida.
David dan Benjamin memiliki karakter yang berlawanan. David seorang yang introvert, sedangkan Benjamin seorang ekstrovert. Perjumpaan mereka berdua yang berbeda karakter tersebut memunculkan relasi yang unik.
Benjamin tampil dengan begitu luwes dan hangat. Cara berkomunukasinya sangat ekspresif. Itulah yang membuat dirinya mampu menarik perhatian peserta tour yang lain. Sementara itu David tampil dengan dingin, kaku, dan hampir tanpa ekspresi. Di balik penampilannya yang dingin, David begitu mengagumi Benjamin yang memiliki daya tarik sangat kuat. Dalam hatinya ia ingin menjadi seperti Benjamin yang sangat hangat dan disukai banyak orang. Tapi di sisi yang lain ia begitu membenci Benjamin yang seringkali lepas kendali dan berbicara terlalu bebas tanpa melihat situasi yang ada.
Sepertinya film ini ingin menunjukkan siapapun kita dengan berbagai karakter yang kita miliki, ketika mengenang sebuah tragedi kelam akan tertunduk, terdiam, dan melebur dalam haru bersama-sama. Ketika rombongan tour mengunjungi kamp pengungsian yang telah membunuh ribuan jiwa, semua terdiam. Menyaksikan ruang gas beracun, ruang pembakaran, hingga tempat penyimpanan sepatu para korban bukanlah perkara mudah. Inilah luka yang nyata. Mereka bersama mengenang kebiadaban manusia yang membantai sesamanya hanya untuk menunjukkan kuasa.

Komentar
Posting Komentar