Seorang pimpinan mafia pengedar narkotika di Meksiko
memutuskan untuk berubah menjadi perempuan. Bukan hanya fisik, namun jiwanyapun
diubah menjadi sosok perempuan. Ini adalah harapan yang terpendam sejak lama
ketika selama ini ia merasa terjebak dalam tubuh laki-laki.
Skenario besar dirancang, sandiwara penuh siasat dimainkan. Ia
hadir kembali sebagai seorang perempuan bernama Emilia Perez. Demi rasa rindu kepada istri dan
anak-anaknya, ia menyamar sebagai sepupu yang kemudian membuka pintu untuk
menerima mereka tinggal bersama dalam satu rumah. Sandiwara itu berakhir pahit
dan tragis. Ia menyaksikan istrinya menjalin hubungan dengan pria lain, yaitu
anak buahnya sendiri.
Emilia Perez adalah gambaran nyata yang tidak dapat
dipungkiri tentang rumitnya permasalahan gender. Gender bukan hanya masalah
laki-laki atau perempuan saja. Tapi di luar itu ada banyak bias yang tidak bisa
dipaksakan dan dijadikan patokan baku. Sebenarnya semua kembali lagi kepada
masalah uang dan materi. Bagi mereka yang memiliki uang seperti Emilia Perez,
perubahan gender bukan menjadi masalah besar dalam membangun relasi sosial. Masyarakat
lebih menghargai uangnya daripada meributkan apa itu gendernya. Emilia tetap
menjadi sosok yang dihormati dengan status trans-gendernya. Namun tidak
demikian bagi mereka yang berada di kelas bawah. Mereka bukan hanya
disingkirkan sebagai kaum marginal tapi juga dianggap sebagai orang berdosa
karena ketidak jelasan mereka.
Emilia Perez merupakan film yang sangat menarik. Bukan hanya
tema yang unik yang dibalut gambar yang apik tapi juga kemasan drama musikal
yang memuaskan visual dan indra dengar. Kegembiraan, kesedihan, kemarahan, kecemasan,
semua ekspresi dilukiskan melalui nyanyian dan permainan warna yang seksi. Namun semua keindahan itu tersaji di balik
konteks sosial yang kelam. Dan inilah dunia yang penuh sandiwara. Dunia tipu-tipu, katanya.

Komentar
Posting Komentar