Langsung ke konten utama

EMILIA PEREZ (2024), KEPEREMPUANAN SEORANG LAKI-LAKI

 


Seorang pimpinan mafia pengedar narkotika di Meksiko memutuskan untuk berubah menjadi perempuan. Bukan hanya fisik, namun jiwanyapun diubah menjadi sosok perempuan. Ini adalah harapan yang terpendam sejak lama ketika selama ini ia merasa terjebak dalam tubuh laki-laki.

Skenario besar dirancang, sandiwara penuh siasat dimainkan. Ia hadir kembali sebagai seorang perempuan bernama  Emilia Perez. Demi rasa rindu kepada istri dan anak-anaknya, ia menyamar sebagai sepupu yang kemudian membuka pintu untuk menerima mereka tinggal bersama dalam satu rumah. Sandiwara itu berakhir pahit dan tragis. Ia menyaksikan istrinya menjalin hubungan dengan pria lain, yaitu anak buahnya sendiri.  

Emilia Perez adalah gambaran nyata yang tidak dapat dipungkiri tentang rumitnya permasalahan gender. Gender bukan hanya masalah laki-laki atau perempuan saja. Tapi di luar itu ada banyak bias yang tidak bisa dipaksakan dan dijadikan patokan baku. Sebenarnya semua kembali lagi kepada masalah uang dan materi. Bagi mereka yang memiliki uang seperti Emilia Perez, perubahan gender bukan menjadi masalah besar dalam membangun relasi sosial. Masyarakat lebih menghargai uangnya daripada meributkan apa itu gendernya. Emilia tetap menjadi sosok yang dihormati dengan status trans-gendernya. Namun tidak demikian bagi mereka yang berada di kelas bawah. Mereka bukan hanya disingkirkan sebagai kaum marginal tapi juga dianggap sebagai orang berdosa karena ketidak jelasan mereka.   

Emilia Perez merupakan film yang sangat menarik. Bukan hanya tema yang unik yang dibalut gambar yang apik tapi juga kemasan drama musikal yang memuaskan visual dan indra dengar. Kegembiraan, kesedihan, kemarahan, kecemasan, semua ekspresi dilukiskan melalui nyanyian dan permainan warna yang seksi. Namun semua keindahan itu tersaji di balik konteks sosial yang kelam. Dan inilah dunia yang penuh sandiwara. Dunia tipu-tipu, katanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Like Father, Like Son (Japan, 2013)

Ini adalah film dengan tema anak yang tertukar dari dua buah keluarga yang kontras. Ryota adalah seorang pebisnis yang sukses. Waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja. Begitu sibuknya, seringkali Ryota tidak memiliki waktu untuk istri dan seorang anaknya, Keyta. Suatu saat, Rumah sakit tempat Keyta enam tahun silam dilahirkan, memberikan kabar mengejutkan tentang tertukarnya bayi Keyta pada saat kelahiran. Adalah Ryuusei, anak yang dulu tertukar dengan Keyta, dan kini tinggal bersama keluarga Saiki. Kedua keluargapun berjumpa dan sepakat untuk   melakukan penjajakan pertukaran kembali anak yang telah tertukar. Keyta belajar beradaptasi tinggal bersama keluarga Saiki sedangkan Ryuusei belajar beradaptasi tinggal bersama keluarga Ryota. Kedua keluarga ini digambarkan sangat berbeda. Keluarga Saiki adalah keluarga sederhana yang tinggal di kios kecil. Saiki sendiri menerima reparasi alat-alat elektronik. Selain Ryuusei, Saiki memiliki dua anak lagi. Sedangkan keluarga Ryota ...

Sound of Metal (2019), Ada Surga dalam Keheningan

  Dari judulnya kita akan membayangkan ini adalah film tentang band metal yang dipenuhi musik-musik cadas seperti film the Rockstar. Ternyata salah besar!! Ini adalah film yang mengisahkan tentang dunia yang sunyi. Ruben, seorang drummer band metal harus menerima kenyataan pahit bahwa ia mengalami gangguan pendengaran akut, bahkan menuju ketulian. Ia pun harus meninggalkan gemerlap dunia panggung hiburan dan menepi di sebuah tempat rehabilitasi tuna rungu. Ia mengalami depresi yang berat ketika berjumpa dengan kenyataan yang mengubah kehidupannya. Dalam kekecewaannya Ruben masih memiliki harapan, yaitu operasi penanaman implan telinga – meskipun biayanya sangat mahal. Setelah menjual mobil RV, satu-satunya harta yang ia miliki, Ruben pun memutuskan untuk melakukan operasi penanaman implan. Namun harapan seringkali berbeda dengan kenyataan. Implan yang ditanam memang menghasilkan bunyi yang dikirim ke otak. Namun bunyi itu bukanlah bunyi yang diharapkannya. Bunyi yang diterima ota...

Coda (2021), Mendengar yang Tidak Terdengar

  Seorang gadis bersuara indah hadir di antara keluarga yang tuna rungu. Sebuah dilema besar ketika harus memilih antara pergi melanjutkan kuliah musik karena beasiswa, atau tetap tinggal bersama ayah, ibu, dan kakaknya yang tuna rungu sebagai nelayan. Film ini membenturkan dua   dunia yang berseberangan dengan sangat keras. Buat apa suara indah di tengah keluarga tuna rungu? Film ini mengajak kita untuk berempati. Bagaimana seorang yang bisa mendengar dan berbicara belajar untuk menjadi seorang yang tidak bisa mendengar. Dan juga bagaimana seorang tuna rungu belajar untuk menikmati dan menghargai indahnya musik. Bagian yang menarik dari film ini adalah ketika sang ayah, ibu, dan kakak menyaksikan gadis itu bernyanyi di aula bersama dengan kelompok paduan suaranya. Kita diajak untuk mengalami apa yang dirasakan oleh keluarga yang tuna rungu ketika di tengah-tengah lagu tiba-tiba suara dimaatikan. Hening... Sepi... Kita diajak untuk menikmati musik tanpa suara. Kita diajak ...