Elisabeth Sparkle menyadari tubuhnya tidak lagi bisa dijual
karena bertambahnya usia. Kerutan dan timbunan lemak bagi dunia hiburan adalah
sampah. Masa kejayaannya hampir berlalu tapi ia tidak mau merelakannya pergi. Elisabeth
Sparkle mengikuti program peremajaan diri. Namun caranya ekstrim. Tubuhnya terbuka
dan muncullah sosok baru yang jauh lebih muda. Dirinya kini ada dua. Tubuh tua
yang penuh kerut dan lemak serta tubuh muda yang segar dan sintal. Masalahnya adalah
keduanya harus bergantian tampil. Tubuh muda yang begitu bergairah tidak
menyia-nyakan kesempatan ini. Kariernya begitu cemerlang. Namun tubuh tua pun
cemburu akan karier tubuh mudanya. Puncaknya adalah bagaimana tubuh muda dan
tubuh tua berkelahi berebut siapa yang akan tampil. Dalam perkelahian itu,
tubuh muda terbelah dan muncul sosok ketiga dari diri Elisabeth Sparkle.
Tubuh adalah pasar. Kita mengupayakan apa yang terbaik bagi
tubuh kita, termasuk penampilan. Seorang rela menghabiskan banyak uang untuk
perawatan tubuh. Kita terlena dengan standart tubuh yang dianggap ideal. Pada era
tahun 80-an dan 90-an produksi mainan membuat boneka Barbie yang sangat laris
di pasaran. Tanpa disadari boneka Barbie diciptakan sebagai wacana standart tubuh ideal manusia. Manusia pun berlomba-lomba untuk memiliki tubuh seperti
Barbie. Tinggi, langsing, rambut panjang, kulit putih, mata cemerlang, bibir
tipis, pipi tirus, bulu mata letik, dan sebagainya. Demikian pula dengan laki-lakipun
dimunculkan Barbie pria yang tinggi, atletis, perut six pack, dan sebagainya.
Siapa yang diuntungkan dengan standartisasi tubuh tersebut? Tentu
saja para pemilik modal. Perusahaan make up, fashion, hingga jasa operasi plastik. Kegelisahan Elisabeth
Sparkle akan tubuhnya yang berkerut dan berlemak seiring bertambahnya usia
adalah kegelisahan kita. Namun kita harus menyadari bahwa penuaan adalah bagian
dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Godaan peremajaan tubuh memang
sangat besar. Namun itu bukanlah solusi. Itu adalah ilusi kapitalisme belaka.

Komentar
Posting Komentar